benjamin franklin

Sebelum mendirikan negara yang kini mendominasi pasar dunia dengan teknologi, sains, perfilman, bisnis, dan lainnya, Benjamin Franklin juga seorang penulis produktif. Meski ia ‘drop-out’ dari sekolah pada usianya ke-10.

Ketika saya mencari cara menjadi penulis lebih baik, dan sempat membaca autobiografi Benjamin Franklin, saya kaget ternyata beliau tak diajari siapa pun dalam menulis juga tak terlahir dengan talenta/bakat menulis. Ia mengajari dirinya sendiri!

Ia mengajari dirinya sendiri menulis. Meski tak melanjutkan pendidikan formalnya, ia sukses dan menjadi kaya dengan penerbitannya Pennsylvania Gazette dan karya terkenalnya Poor Richard’s Almanack.

Di zaman yang masih sangat belum modern, bagaimana ia mencapai sukses menemukan penangkal petir dan lensa kacamata, serta termasuk belajar menulis?

#1 Analisis secara Detail

Pada usia 16, Benjamin Franklin sadar bahwa dirinya jelek dalam menulis. Ejaan dan tata bahasanya bagus, namun ia “tak bagus dalam mengespresikan idenya, dalam caranya serta kejelasannya.”

Istilah-istilah dalam autobiografinya agak sulit dipahami. Tapi ia meningkatkannya dengan mengambil sebuah majalah favoritnya, The Spectator.

“I took some of the papers, and, making short hints of the sentiment in each sentence, laid them by a few days, and then, without looking at the book, try’d to compleat the papers again, by expressing each hinted sentiment at length, and as fully as it had been expressed before, in any suitable words that should come to hand. Then I compared my Spectator with the original, discovered some of my faults, and corrected them.”

Tak paham tulisannya? Ini dia sedikit tips menulis lebih baik berdasarkan paragraf di atas:

  • Ambil tulisan yang bagus (majalah, koran, buku) dan buat catatan singkat untuk setiap kalimat.
  • Taruh catatan tersebut di sampingnya dan buka kembali dalam beberapa hari.
  • Lalu tulis ulang tulisan tersebut hanya dengan menggunakan catatan yang kamu tulis.
  • Bandingkan versi aslinya dengan tulisanmu sendiri dan perbaiki kesalahan yang muncul.

#2 Ubah menjadi Puisi dan Sebaliknya

Franklin menggunakan sebuah teknik yang dipelajari oleh semua ahli — entah itu ahli sepak bola, matematikawan, atau investor di Wall Street. Untuk meningkatkan kecepatannya dalam mempelajari teknik-teknik tersebut, ia “menyusahkan dirinya.”

Franklin sadar bahwa menulis puisi mampu mempercepat dirinya dalam menjadi penulis yang lebih baik. Karena dengan puisi, ia mendapat kosakata dan pilihan kata yang lebih kaya ketimbang sebelumnya.

#3 Pahami Struktur

Di tahap ini, Franklin sudah mahir menggunakan kata dan memilih kosata dalam menulis. Ia lalu membuat struktur menulisnya.

“I also sometimes jumbled my collections of hints into confusion, and after some weeks endeavored to reduce them into the best order, before I began to form the full sentences and compleat the paper. This was to teach me method in the arrangement of thoughts.”

Ini maksudnya:

  • Ambil catatan-catatanmu dari poin #1 dan campur keseluruhannya.
  • Tunggu beberapa minggu.
  • Rangkai ulang kalimat-kalimatnya sebaik yang kamu bisa.
  • Bandingkan dengan versi aslinya

#4 Rahasia Menulis dari Benjamin Franklin

Selain ketiga trik di atas, Franklin juga punya trik rahasia dalam menulis lainnya.

Ini dia:
“My time for these exercises and fore reading was at night, after work or before it began in the morning, or on Sundays, when I contrived to be in the printing-house alone, evading as much as I could the common attendance on public worship.”

Apa artinya?

Intinya adalah: tanpa trik rahasia ini, ketiga trik sebelumnya tak akan berguna, dan trik rahasia itu adalah obsesi.

Dengan obsesi, kamu akan rajin menulis terlepas dari rasa lelah yang kamu rasakan. Pagi, malam, dan setiap saat kamu menulis, bahkan meski kamu memiliki pekerjaan tetap yang mengurangi waktumu.

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Cart

No products in the cart.