david jacobs

Saya memang difabel, tapi saya memiliki semangat dan kemampuan yang luar biasa, sehingga berbagai prestasi bisa saya raih. Ini membuktikan bahwa setiap orang memiliki kelebihan untuk menutupi kekurangannya. Jika saya bisa… Anda juga pasti bisa.

Awalnya minder

Saat dilahirkan dengan berat badan saya agak berat, sehingga harus melalui proses vakum. Proses inilah yang berdampak pada perkembangan syaraf tangan kanan. Mama bercerita kekuatan tangan kanan saya hanya bisa berkisar hingga 15 persen. Saat kecil, saya kerap merenungi tangan kanan yang lebih kecil dari tangan kiri.

Rasa minder itu terus muncul dan sulit diusir. Awalnya saya memang sangat sulit menerima kenyataan hidup ini. Perasaan malu dan minder di hadapan teman-teman selalu muncul, baik ketika berada di sekolah maupun di rumah.

Saya selalu merasa punya kekurangan dibanding teman-teman. Kalau sedang bermain bersama mereka, saya selalu merasa ada kekurangan, merasa tidak percaya diri. Suasana batin karena merasa memiliki kekurangan terbawa hingga kami sekeluarga pindah ke Semarang, dan saya pindah sekolah ke SD Don Bosco, Semarang.

Saya menganggap saat-saat masih duduk di bangku SD adalah saat tersulit, dimana saya harus “berdamai” dengan keadaan sebagai kaum difabel. Waktu itu saya sering menangis di rumah, karena teman-teman sering mengejek kekurangan fisik.

Pernah saya menanyakan kondisi ini kepada Papa dan mama, mengapa saya tidak dikaruniai kesempurnaan fisikseperti teman-teman lainnya. Lama sekali saya berada dalam kondisi menggugat dan mempertanyakan.

Saat bangkit mengalahkan rasa minder

Beruntung papa dan mama selalu sabar dan telaten untuk meyakinkan saya agar tak perlu minder dengan kondisi fisik. Mama selalu memberi pengertian bahwa hidup manusia menjadi berarti bukan karena ia gagah atau tampan, tetapi seberapa banyak ia memberi manfaat bagi orang lain.

Papa dan mama yang selalu berusaha untuk mencarikan saya suatu keahlian, untuk setidaknya dengan keterbatasan fisik yang ada saya memiliki kelebihan. Papa mengatakan jangan menghiraukan teman-teman yang menghina, teruslah berdo’a kepada Tuhan agar bisa diberi ketenangan dan kekuatan.

Seiring berjalannya waktu, saya menemukan “pangggung” yang khas. Di “pangggung” itu, saya tidak menemukan perbedaan antara saya yang difabel dengan mereka yang
normal. “Panggung” itu adalah permainan tenis meja.

Dengan tenis meja, saya merasa lebih hidup karena merasakan tidak ada yang berbeda dalam diri saya dengan lawan-lawan yang dihadapi. Itu membuat saya senang karena bisa mengimbangi permainan mereka yang normal. Bahkan saya bisa menjadi juara nasional dengan mengalahkan para pemain normal. Dan meraih prestasi demi prestasi.

Akhirnya saya bisa mengatasi rasa minder dan menunjukkan prestasi yang sesungguhnya. Teman-teman yang dulunya suka mengejek akhirnya berbalik memberikan selamat atas prestasi saya.

Bagaimana saya bisa menjadi pemain tenis meja?

Awal ketertarikan saya bermain tenis meja adalah sejak SD. Setiap sore berlatih dengan kakak-kakak, dan lucunya saat kalah maka saya menangis. Dan itu menjadi memori yang tak terlupakan dan mendorong saya untuk menjadi lebih baik lagi.

Baca kisah lengkapnya hingga ia mengikuti Paralimpiade di London tahun 2012, yang membawanya menuju Asian Para Games 2018. Kamu bisa membacanya di buku I’m The Champion.buku i'm the champion

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close

Cart

No products in the cart.